oleh : cahaya viena
Aku terus menyusuri gang-gang sempit yang kotor dan becek karena hujan tadi sore. Begitu sepi gang ini sampai-sampai aku dapat terperanjat ketika mendengar suara tikus got melewatiku. Rumahku masih dua belokan gang lagi akan tetapi peluh sudah membasahi seluruh bajuku petang ini, kudorong gerobak tempatku menjajakan makanan dengan penuh tenaga berharap cepat sampai didepan rumah. Rumah-rumah kumuh didaerah pinggiran kota besar sangat mengenaskan keadaannya, bahkan kerbaupun tak akan mau menempatinya. Tapi apalah artinya kami yang hanya orang-orang terpinggirkan dalam era globalisasi yang selalu dijadikan kiblat oleh